27 Okt 2017

Peradaban Fast Food (makanan siap saji)


Kalau bisa diperlambat, kenapa harus dipercepat?
Manusia “modern” telah kehilangan keseimbangannya. Ia rela disebut manusia “terbelakang” asalkan bisa tetap menjadi manusia paripurna, yang hidup memilih, -untuk berbuat atau tidak berbuat-, bukan karena desakan eksternal semata. Ia percaya bahwa hidup ini ada titi kolo mongso (momentum)nya, cepat atau lambat sesuai naturnya masing-masing.

Dalam berbagai seminar, kita sering dicekoki doktrin bahwa setiap manusia yang lahir adalah pemenang. Dari sekian juta sel sperma, hanya satu yang berhasil membuahi sel telur. Benarkah demikian? Tidak. Sperma yang berhasil sampai di bagian luar sel telur tidak hanya satu dan yang berhasil masuk bukan yang pertama kali sampai, namun yang momentumnya pas. Ini membantah teori manusia sebagai pemenang dalam aspek kecepatan.

Tahun 70-an terjadi krisis pangan global. Jutaan warga dunia mengalami kelaparan setidaknya di 40 negara. Selepasnya, manusia membuat terobosan untuk mempercepat tersedianya pangan. Kita mengenalnya dengan sebutan Revolusi Hijau. Keputusan (terburu-buru) ini kemudian menumbuhkan berbagai masalah yang jauh lebih parah, berkurangnya kualitas kehidupan (tanah, tumbuhan, hewan dan manusia). Bahkan, penurunan kualitas makanan akibat percepatan produksi mengurangi angka harapan hidup manusia.

Jika melihat sejarah usia orang dahulu, yang juga merupakan penanda peradaban manusia, kecepatan hidup manusia berbanding terbalik dengan usianya. .
Progress jumlah penduduk kerap dijadikan kambing hitam berkurangnya angka harapan hidup manusia. Persaingan mendapatkan makanan membuat manusia bergerak lebih cepat, pun dengan sel-sel tubuh didalamnya. Akibatnya, usia pakai juga berkurang. Ini bisa menjelaskan mengapa usia manusia cenderung menurun. Laiknya, motor, jika dipakai untuk keperluan sehari-hari umur pakainya pasti lebih panjang bila dibandingkan dengan motor yang dipakai buat usaha ojek.

Akan tetapi, jika diselami lebih dalam, jumlah penduduk dan kebutuhan makanannya bukan merupakan kausa prima angka berkurangnya angka harapan hidup manusia. Karena kenyataannya, negara maju padat penduduk memiliki angka harapan hidup lebih tinggi dibanding penduduk di negara berkembang maupun negara yang belum maju. Benang merah yang menyambung itu semua adalah akses terhadap sumber-sumber produksi atau dalam bahasa Mashlow disebut ruang aktualisasi diri.

Untuk konteks Indonesia, berkurangnya stok pangan bukan karena perkembangan jumlah penduduknya tapi karena stok produksi yang menurun. Stok pangan berkurang karena penurunan luas lahan dan jumlah petani yang trennya juga liniear degradatif. Berkurangnya akses terhadap lahan erat kaitannya dengan transformasi lahan ke usaha lain yang dianggap lebih menguntungkan seperti industri (pabrik, perumahan dan perdagangan). Berpindahnya petani ke sektor lain karena usaha budidaya pertanian sudah tidak menguntungkan.

Garis yang menghubungkan usaha tani dan usaha industri adalah akses terhadap uang (perbankan). Mayoritas petani tidak berhubungan dengan perbankan (SOUT 2012, BPS), sedangkan usaha industri tidak bisa lepas dari perbankan.

Dalam produksinya, industri mengakses uang dari perbankan berbunyi kredit plus bunga yang kudu dikembalikan. Kondisi ini memaksa usaha industri memutar otak untuk melakukan efisiensi agar kredit plus bunga bisa diangsur simultan mendapat keuntungan. Konsekuensinya, semua harus cepat sehingga muaranya orang (tenaga kerja) dan kualitas bahan baku yang dikorbankan. ini adalah kausa prima penurunan kualitas hidup manusia yang berdampak pada penurunan angka harapan hidup.

Uang yang bersifat kredit dan menuntut anakan (bunga) dengan jumlah terbatas memaksa manusia berebut dan bergerak lebih cepat (dengan dalih inovasi). Bayangkan, jika uang tidak berbunga dan bukan kredit. Orang tak perlu terburu-buru produksi dan semua orang bisa produksi jika uang tersedia jika dibutuhkan. Petani tak perlu takut sambung dengan perbankan dan tak perlu pakai pupuk sintesis guna mempercepat produksi untuk menyicil hutang plus bunga.

Pengusaha makanan tidak perlu terburu-buru menyuguhkan makanan karena konsumen tidak perlu terburu-buru makan, kejar-kejaran dengan waktu istirahat atau deadline setoran. Pengusaha minyak tak perlu membakar hutan hanya untuk memangkas biaya produksi guna membayar utang perusahaan ke bank.

Manusia bisa hidup dan kerja dengan tenang, mengikuti ritme alami (mongso) semesta. Untuk apa makan fast food namun pada akhirnya hidup menjadi pendek (short life)?

4 Agu 2017

PETUAH ORANG MUNA, MAKAN dan TANGGA


Jangan makan di atas tangga, mama(ibu)mu bisa meninggal karenanya!. Kalimat ini kerap didengar teman saya semasa kecil. Sepintas terdengar konyol atau setidaknya terlalu lebay. Tidak ada kausalitas yang kuat antara makan di tangga seorang anak dengan kematian mamanya.

Akan tetapi, teman saya penganut idiom “manis jangan cepat di telan, pahit jangan lantas dimuntahkan”. Apakah sedemikian konyolnya leluhur bangsa sulawesi tenggara khususnya orang Muna hingga mewariskan produk budaya yang kelak hanya akan jadi bahan tertawaan?

Salah satu ciri masyarakat yang peradabannya maju adalah kualitas bahasanya. Semakin halus tingkat karsa dan rasanya, semakin halus cipta yang dihasilkan. Di saat bangsa Eropa menginvasi Amerika dengan membantai bangsa Indian, bangsa Muna sudah hidup selaras dengan alam. Saat bangsa Eropa merampas tanah, kita sudah berteman karib dengan tanah. Anda masih ingat praktik “kaago-ago”? Karena ketidaktahuan dan kesimpulan yang terburu-buru, sebagian orang menganggapnya sebagai praktik primitif penyembahan makhluk. Padahal, tidak ada kemesraan paling tinggi dari rasa yang coba diekspresikan via ritual “kaago-ago”.

Peradaban maju identik dengan ekspresi simboliknya termasuk dalam hal berkomunikasi. Praktik “kaago-ago” adalah bentuk komunikasi yang mentransfer rasa ke wujud cipta. Saat rasa kita tak sampai pada maksud rasa, sulit untuk menginterpretasi ciptanya dengan tepat. “Kaago -ago” adalah monumen ucapan terima kasih manusia kepada alam (salah satunya tanah/lahan) setelah sekian banyak manfaat yang diperoleh.

Identik dengan “kaago-ago”, kalimat “Jangan makan di atas tangga, !” adalah bentuk komunikasi kasta puncak untuk menyampaikan rasa (maksud) mewujud teguran. Bagi Anda yang sudah menikah pasti familiar dengan terma “tungguno karete”. Mengapa wakil yang diutus harus bersusah payah menggunakan istilah jagung dan kakak tua hanya untuk bertanya apakah si perempuan sudah ada yang melamar?. Begitulah, semakin halus tingkat rasa, maka kata-kata atau kalimat tak sampai hati harus vulgar.

Kalimat “Jangan makan di atas tangga, mama(ibu)mu bisa meninggal karenanya!” adalah bentuk teguran yang hendak disampaikan oleh orang yang kebetulan melintas. Jika divulgarkan maksudnya kurang lebih begini, “Wahai Ibu penghuni rumah, tolong ajari anakmu adab makan. Anda itu masih hidup atau sudah mati sih, sampai anakmu makan di tangga”.

Untuk konteks kekinian, halusnya kata-kata atau kalimat kelihatannya sudah nyaris punah. Betapa mudahnya kita menghina, merendahkan mengkafirkan orang lain, vulgar lagi. Betapa jatuhnya pamor atau nilai sebuah amanah/kepemimpinan hingga harus dikampanyekan. Betapa mahal sebuah kepercayaan hingga kita harus memintanya. Malulah kita pada leluhur. Bahkan tanah saja mereka muliakan.

1 Agu 2017

LAND GRABBING dan SISTEM KEUANGAN

Catatankita.com - Perampasan tanah (lahan) di Indonesia berlangsung secara konstitusional sebagai bagian dari sistem keuangan neo-romusha/ neo-rodi. Hanya ada 2 (dua) pintu akses uang, melalui:
  1. Fiskal (anggaran pemerintah) dan
  2. Moneter (perbankan). Perampasan lahan (land grabbing) terjadi melalui pintu kedua. 
Pencairan uang via perbankan menuntut agunan. Galibnya, kepemilikan tanah dijadikan alat barter, meskipun tidak seimbang. Uang yang bisa diakses selalu lebih kecil dari nilai aset (tanah) yang dijaminkan, kurang lebih 30%-nya. Tinggal menunggu antrian, satu per satu rakyat kehilangan tanah karena tidak mampu membayar kembali kredit plus bunga yang mengikuti.

Dan ini saya kasih satu contoh bibinya teman saya, contoh yang rumahnya yang belum ke LELANG oleh bank (*yang sudah dilelang oleh bank sudah banyak di internet), sebut saja namanya Nursia, adalah seorang pengusaha kecil. Beliau berjualan barang-barang kebutuhan rumah tangga seperti kasur, kipas angin, lemari, dan lain-lain.

Beliau tidak pernah belajar ilmu marketing karena memang tidak pernah kuliah. Jadi, beliau berjualan berdasarkan permintaan. Tidak ada target penambahan pelanggan yang terukur. Penambahan pelanggan lebih karena informasi mulut-telinga-mulut pelanggan-pelanggannya.

Awalnya beliau berjualan dari modal yang dikumpulkan sendiri dari hasil bekerja di perusahaan pengalengan ikan selama 10 tahun. Berniat memperbesar modal, beliau mengajukan permohonan kredit ke salah satu bank plat merah. Dengan sertifikat rumah sebagai jaminan, beliau meminjam sejumlah 40 juta rupiah untuk jangka waktu 2 tahun dan mengembalikan 2,2 juta rupiah per bulan untuk pokok dan bunganya. Setelah dihitung, jatuhnya bunga per bulan sebesar 533.000 rupiah.

Awal-awal membayar tidak ada masalah. Kalaupun ada pelanggan yang menunggak membayar, pengembalian ke bank bisa ditutupi dari sedikit sisa uang pinjaman. Melewati bulan ke-12, Nursia mulai kesulitan membayar kembali karena harus mengumpulkan pembayaran dari para pelanggannya. Akhirnya, beliau bisa mengembalikan setelah menunggak satu bulan.

Tujuh bulan berselang, beliau jatuh sakit dan sebagian uangnya dipakai berobat dan praktis tidak bisa mencari tambahan pelanggan. Di titik ini, bunga bank terus bekerja, tidak perduli dengan keadaan tersebut. Jangan tanya dimana pemerintah. Berulang kali beliau bertutur ke saya bahwa ia sendirian, apalagi setelah bercerai dari suaminya. Beliau juga malu terus-terusan meminta bantuan ke keluarga.

Setelah pulih dari sakit, beliau akhirnya kembali berhasil membayar cicilan ke bank namun tunggakannya jadi bertambah menjadi dua bulan. Tiga bulan menjelang habis masa cicilan, beliau berniat mengajukan perpanjangan pinjaman dengan harapan bisa menambah modal. Akan tetapi, pihak bank tidak dapat memproses permintaan tersebut karena berdasarkan aturan, bibi saya harus menunggu (top up) 6 bulan. Jika rekeningnya dipantau sehat oleh BI-checking, baru pinjaman bisa dikucurkan lagi.

Peraturan perbankan ini bagi saya sungguh tidak masuk akal. Bagaimana mungkin orang dipaksa menunggu 6 bulan agar usahanya dilihat lancar dulu. Bisa-bisa usahanya tutup sebelum waktu itu tiba karena sebagian besar modal dari pinjaman tersebut. Bahkan, jika seorang pengusaha memiliki track record buruk (tunggakan lebih dari 3 bulan) bisa terkena blacklist dan tidak bisa lagi mengajukan pinjaman di bank manapun. Aturan lain yang menurut saya koplak adalah kredit baru bisa dikucurkan oleh pihak bank jika usaha minimal sudah berjalan minimal 6 bulan. Bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki modal awal untuk berusaha dan hendak mengajukan pinjaman ke bank?
(MODAL CARI SENDIRI - DIPAJAK PULA) #MIKIR

Peristiwa yang menimpa Nursia menjawab pertanyaan mengapa pemerintah Indonesia sulit mengurangi angka kemiskinan. Kebijakan pemerintah bersifat yang bersifat stimulus dan berbunyi program tidak dapat menjangkau seluruh rakyat dan tidak ada jaminan kontinuitas sehingga tidak kompatibel untuk mendukung penciptaan usaha baru.

Dan ini saya juga mempunyai vidio, kasusnya juga hampir mirip seperti yang dialami Nursia

Parahnya lagi, pemerintah tidak bisa mencampuri urusan moneter yang ditangani oleh sektor perbankan. Sifatnya hanya koordinasi. Sungguh aneh, sebuah lembaga negara (BI) yang pimpinannya dilantik oleh Presiden, kebijakannya bersifat independen. Padahal, uang sebagai barang publik adalah urat nadi pergerakan ekonomi dan menguasai hajat hidup orang banyak.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika sepuluh tahun terakhir angka kemiskinan bertahan di belasan persen. Ini belum terhitung penduduk dengan penghasilan hampir miskin (hanya selisih 50ribu hingga 100rb dari batas garis kemiskinan) yang jumlahnya mencapai 60 persen.

Menurut data yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS), per Maret 2017, orang miskin di Indonesia mencapai angka 27,77 juta jiwa. Jumlah tersebut naik. Pada September 2016, jumlah penduduk miskin masih berada di kisaran 27,76 juta jiwa. Hampir bisa dipastikan bahwa tambahan 6,90 ribu orang miskin adalah sumbangan dari penduduk hampir miskin yang pendapatannya tidak bisa lagi mengimbangi inflasi.

Problem kemiskinan semakin diperparah dengan fakta peningkatan ketimpangan ekonomi. Akan tetapi, yang lebih mengkhawatirkan adalah trend peningkatan tersebut yang berjalan cepat dan bersifat sistemik. Ia mempunyai korelasi yang kuat dengan pertumbuhan ekonomi : ada kecenderungan kelompok kaya menikmati pertumbuhan ekonomi secara disproporsional.

Berdasarkan rata-rata Gini (1990-1999) dan (2000 – 2012), Indonesia merupakan negara dengan perubahan Gini hampir 20%, lebih tinggi dari negara lain di kawasan dan anggota BRIC. China, yang dalam periode 1990 – 2012 mengalami pertumbuhan ekonomi rata-rata hampir dua digit, lebih pesat dari Indonesia, ternyata mengalami pertumbuhan Gini yang lebih rendah dari Indonesia. Sebaliknya, Malaysia, Thailand dan Russia merupakan negara yang berhasil menurunkan Gini secara cukup signifikan, walaupun nilai Gini mereka pada tahun 2012 masih lebih tinggi dari Indonesia.

Selain Gini income, ada faktor lain yang juga penting untuk dijadikan acuan dalam menganalisa ketimpangan, yaitu Gini wealth (kekayaan) dan Gini tanah (kepemilikan tanah). Kekayaan berperan penting bagi seseorang untuk mendapatkan income, menurut Hernando De Soto (2003), segala jenis aset sesungguhnya adalah modal yang bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan income. Dalam konteks ini, ketimpangan aset bisa dijadikan indikasi potensi ketimpangan dalam jangka panjang. Mereka yang mempunyai aset berpotensi mendapatkan income darinya, dengan menjadikannya aset produktif, maupun dengan mengkonversikannya menjadi cash.

Menurut survei Rand Institute (1997), sekitar 1% orang terkaya Indonesia menguasai 28,7% total aset, sedangkan 5% dan 10% terkaya menguasai 56% dan 65,4% aset. Aset yang dikuasai oleh 10% orang terkaya di Indonesia (65,4%) jauh di atas proporsi income mereka sebesar 30% (WDI, 2013). Penguasaan aset di Indonesia lebih terpusat daripada income. Dalam hal ini, kondisi Indonesia berada pada posisi 17 negara paling timpang berdasarkan Gini wealth, dari 150 negara yang disurvei (Davies, 2009).

Sistem perbankan berperan besar dalam pertumbuhan ketimpangan ekonomi. Dengan model penyaluran uang berbasis agunan, perpindahan aset terjadi pada nasabah gagal bayar melalui mekanisme lelang. Bisa dipastikan aset ini berpindah ke tangan mereka yang memiliki modal besar. Dan lucunya lagi, negara hanya mendapatkan timbal balik berupa fee dari proses tersebut.

Selain itu, penyaluran uang via perbankan lebih berpihak kepada pengusaha besar yang sudah stabil. Kondisi ini diperparah dengan sistem pasar yang tidak mempermasalahkan darimana barang berasal, yang penting tersedia dengan harga terjangkau. Usaha baru dengan modal kecil akan sulit bertahan menghadapi usaha yang diback-up modal besar. Contoh paling anyar adalah tumbangnya ribuan toko kelontong menghadapi gempuran retail modern yang tersebar merata dan hanya dimiliki oleh kakak beradik.

Dan dalam pandangan KITAB SAMAWI :
SISTEM KEUANGAN neo-romusha/ neo-rodi dan atau SISTEM PERBUDAKAN (RIBA) merupakan bentuk penjajahan dalam bidang ekonomi yang menimbulkan ketidakadilan dan kesengsaraan, khususnya bagi kaum yang lemah. Oleh karena itu Agama-agama Samawi besar seperti Yahudi, Nasrani dan Islam sepakat mengharamkannya. Pengharaman ini secara eksplisit dan atau SANGAT JELAS tercantum dalam kitab suci masing-masing agama tersebut.

DAN INI UNTUK PERENUNGAN :
#RENUNGAN
Pantaskah bangsa sebesar ini dengan sumber daya manusia yang sangat hebat di berbagai disiplin ilmu tidak berdaya dan bertekuk lutut dibawah kekuasaan uang dan undang-undang yang dapat melalaikan kita dari mengingat TUHAN dan/ atau tidak sepenuhnya sesuai dengan kehendak kita sebagai MANUSIA YANG ADIL BERADAB DAN BERHATI NURANI.

#RENUNGAN
Lembaran kertas dengan sebutan uang dan peraturan perundang-undangan bukan tuhan yang tidak layak untuk ditaati atau disembah melebihi ketaatan dan penyembahaan kita kepada TUHAN, karena lembaran kertas tersebut tidak pernah mempunyai hati dan akal, sehingga tidak akan pernah bisa menghadirkan kedamaian. Namun demikian uang dan peraturan perundang-undangan dibutuhkan untuk menghadirkan TATATAN YANG PENUH KEDAMAIAN dan bukan sebaliknya justru menimbulkan penjajahan dan menjadi Sebab utama sengketa antar sesama manusia.
KEDAULATAN TIAP-TIAP INDIVIDU SEUTUHNYA SEBAGAI MANUSIA ADALAH DIATAS SEGALA-GALANYA.

29 Jul 2017

REVOLUSI AGRARIA

Catatankita.com - Satu hal yang masih menjadi misteri bagi saya adalah klaim kepemilikan manusia atas tanah. Setahu saya, bumi ini sudah ada mendahului kita, manusia. Jadi, kita adalah kontraktor. Namun, apa boleh buat, kita sudah terlanjur gandrung. Apalagi, praktik ini dilanggengkan secara konstitusi oleh negara.

Badan Pertanahan Nasional (BPN) adalah lembaga pencatat hak atas tanah. Sertifikat yang dikeluarkan oleh BPN berbunyi hak milik. Menurut Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Badan Pertanahan Nasional, Gunawan Muhammad, lahan yang tidak dikuasai individu dikuasai oleh negara dan diiventarisir oleh Kementerian Keuangan. Namun, tidak semua lahan terverifikasi.

Dan kini saya memberikan contoh seperti Konflik lahan di Urut Sewu adalah buntut keberadaan lahan yang belum tersertifikasi. Ironisnya, konflik tersebut melibatkan lembaga keamanan negara yang semestinya melindungi rakyat. Sampai tulisan ini dibuat, rakyat Urut Sewu bersama-sama mahasiswa, aktivis dan LSM sedang berjuang hak atas lahan yang menjadi hak mereka.

Sebelum republik ini berdiri, pada jaman kerajaan, perkara lahan/ tanah sepenuhnya menjadi otoritas raja. Bukan berarti Raja yang memiliki. Raja hanya administrator mutlak yang membagi pencatatan penggunaan/pemanfaatan lahan via unit kerja yang ditunjuk. Dengan demikian, pemanfaatan lahan oleh rakyat berbunyi hak pakai sehingga untuk keperluan pembangunan saat itu tidak perlu repot-repot membahas ganti rugi atau ganti untung. Raja tinggal mencarikan lahan baru untuk ditempati oleh rakyatnya, termasuk mengganti-bangunkan aset-aset yang berdiri di atasnya (rumah, gudang atau bangunan lainnya). DIY adalah satu diantara propinsi di negara ini yang masih mempraktekan otoritas semacam ini, meskipun tidak lagi paripurna, side by side dengan sistem sistem pencatatan oleh BPN.

Selain itu, praktik sistem keuangan kita menjadi kausa kerentanan perampasan lahan (land grabbing) tidak kentara. Akses uang melalui perbankan membutuhkan jaminan dan tanah adalah salah satunya. Saat seseorang gagal bayar pinjaman plus bunga, bank berhak melelang tanah yang diagunkan. Dari proses ini, negara hanya mendapat “receh” berupa “administrasi” proses pelelangan. Kemana sertifikat tanah ini jatuh? Tentu saja ke kalangan berduit. Hal ini menjawab fakta 0,2% penduduk Indonesia menguasai 56 persen aset produktif dan 87% dalam bentuk tanah.

Atas nama pembangunan, praktik land grabbing juga kerap dilakukan oleh pemerintah. Demi memuluskan investasi, masyarakat yang resisten terhadap upaya land grabbing biasanya diusir keluar tanpa konsultasi dan kompensasi oleh aparatur negara. Kalaupun ada pengantian, lebih banyak tidak sepadan karena memang namanya ganti rugi.

Oleh karena itu, REFORMASI AGRARIA sudah tidak cukup lagi untuk menegakkan keadilan akses lahan. Diperlukan REVOLUS AGRARIA berupa penyerahan hak milik atas tanah/ lahan ke Negara, bertransformasi menjadi hak pakai. Sebagai kompensasi, nilai lahan tersebut dihitung dan menjadi simpanan bagi rakyat. Namun, aksi tersebut belumlah cukup dan harus didukung akses anggaran by name by address (hak atas uang yang bebas jaminan plus bunga) dengan balas jasa bagi hasil ke negara.

Untuk menyegarkan semangat berjuang untuk sesuatu yang kita yakini ideal bagi setiap jiwa di bumi Indonesia, saya kutip petikan Pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, yang kita kenal sebagai kelahiran Pancasila, “kita hendak mendirikan suatu negara semua buat semua. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi semua buat semua.”

KRITIK MEMBANGUN

Catatankita.com - Fitrahnya, kritik itu tidak menyenangkan. Pernah saya ditanya, “Yolanda, bagaimana cara menyampaikan kritik atau masukan tanpa melukai perasaan?”, atau dalam kalimat lain, kritis yang tidak kurang ajar. Saat itu, saya tidak punya jawaban.

 

Ternyata, Islam sudah punya jawabannya. Bahwa kritik itu sebuah keharusan. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa salah satu hak seorang muslim adalah memberikan nasihat jika ia memintanya. Saya garis bawahi, ‘jika ia memintanya’. Sementara, dalam Alquran disebutkan bahwa ada perintah langsung, yang tidak ambigu dalam kalimatnya, nasihat Luqman kepada anaknya (Q.S. 32: 12-19). Dalam ayat ini, nasihat Luqman diberikan tanpa didahului permintaan oleh anaknya.

Kedua nash ini seolah bertentangan, namun sejatinya ada garis yang menghubungkannya, yaitu reaksi penerima kritik. Saat seseorang meminta kritik, ia sudah menyiapkan mentalnya terlebih dahulu. Jadi, peluang hatinya terluka jauh lebih kecil. Begitupula seorang anak yang dinasehati oleh Bapaknya dengan santun (meskipun tanpa meminta), peluang untuk tersinggung sangat kecil. Secara, orang tua sendiri gitu loh. Inti dari kedua situasi ini adalah adanya kerelaan dari penerima kritik.

Berkaca dari dua model kritik tersebut, kritik yang disampaikan melalui media sosial atau kritik terbuka tentunya bukan jenis kritik yang membangun. Mengapa? Pertama, belum tentu yang dikritik menerima dengan lapang dada. Kedua, menyampaikan kritik yang dipemirsai oleh banyak orang bisa jatuh pada situasi mempermalukan, apalagi yang dikritik adalah aib.

Terkait pembenaran kritik terbuka terhadap penguasa pernah dilakukan dijaman Umar bin Khattab, konteksnya waktu itu ada permintaan dari Umar selaku khalifah. Lantas, apakah harus didiamkan? Bukankah sudah ada sistemnya? Saya tidak tahu sejak kapan kita memilih seseorang, lalu menyiapkan sistemnya agar berjalan baik, namun pada akhirnya kita meruntuhkannya sendiri dengan bentuk kritik yang tidak perlu. Ah, mungkin saja karena kita mengambil nash-nya setengah-setengah.

Tidak ada yang bisa melarang kita untuk mengkritik di media sosial. Tidak ada yang tahu niat kita, karena kita sendiri yang lebih sadar dan paham. Namun satu hal yang pasti, energi itu kekal, kecuali Tuhan mencabutnya. Setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai perbuatannya. Entah sekarang atau nanti-nanti.

Ekonomi Kerakyatan, Kemana Berjalan?

Catatankita.com - Menjadi bagian dunia ini tentu mengasyikkan, tak dapat dihitung berapa banyak kontribusi negara ini untuk kepentingan berbagai negara di dunia. Mulai dari pemanfaatan sumber daya alam untuk kebutuhan-kebutuhan bangsa-bangsa lain, hingga kadang hanya tinggal ampas yang tersisa.

Negara dengan tujuan mulia yaitu untuk menjadi negara adil makmur dan sejahtera, bahkan memiliki dimensi perjuangan untuk dunia. Dimensi perjuangan untuk dunia ini bisa kita jumpai di pembukaan undang-undang dasar, … penjajahan diatas dunia harus dihapuskan…. Tentu makna dari kata-kata ini bukan hanya sebagai bentuk kepedulian semata tapi lebih dari itu adalah aksi untuk mewujudkannya.

Tahun 1955 kita tahu tentang catatan berharga bangsa ini, membuat sebuah forum negara-negara asia afrika untuk berdiri dan sejajar dengan berbagai negara maju. Melalui tekad yang kuat bangsa ini mampu menginspirasi kemerdekaan dan pembebasan keterbelengguan dari penjajahan di berbagai negara asia afrika.

Bahkan dengan konferensi asia afrika tersebut mengantarkan Indonesia menjadi mercusuar baru dalam peta perpolitikan dunia. Menjadi sebuah keniscayaan bahwa negara yang masih muda ini mampu mempererat persatuan dan kesadaran berbangsa di dunia.

Pada tahun 1967 juga tak kalah peran Indonesia dalam percaturan regional dengan mengutamakan kerjasama perekonomian dan hubungan sosial budaya di Association Of South East Asion Nations (ASEAN). Dengan negara yang berpenduduk terbesar waktu itu dan hingga ini menjadikan negara ini sangat diperhitungkan dalam diskusi maupun forum kenegaraan.

Apakah peran Indonesia yang dulu kita lakukan adalah tinggal kenangan semata? Sejarah hadir bukan untuk menjadi kenangan yang terlupakan tetapi sebagai penerus kita mempunyai peran lebih dengan menjadikan pelajaran hidup dalam menyongsong masa depan Indonesia.

Sekarang memang optimisme yang dibangun adalah Indonesia akan masuk dalam perekonomian global 8 besar untuk 2030-2045 yang akan datang. Pertanyaan saya, apakah kita harus menunggu hingga tahun tersebut, kalaulah nantinya kehendak Tuhan Yang Maha Esa akan memberikan lebih cepat dari itu. Dengan demikian permasalahan waktu bukan tolok ukur semata patokan yang pasti untuk hasil perjuangan Indonesia, pekerjaan rumah yang terbaik adalah melakukan hal terbaik dalam hidup untuk perjuangan ini.

Judul saya diatas bukanlah hal muluk-muluk yang menjadi mimpi saya, namun hal diatas dilihat dari sejarahpun kita adalah bangsa yang telah mempersembahkan kontribusi besar untuk dunia, terlepas dari apakah ini baik buruk terhadap negara sendiri?.

Dimensi yang ingin saya sampaikan bahwa ekonomi Indonesia untuk dunia adalah sebuah akibat apabila melakukan beberapa pemikiran pembangunan ekonomi kita sekarang. Pembangunan perekonomian yang dimaksudkan adalah proses peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan merata bagi seluruh rakyat Indonesia.

Konstitusi kita telah mengamanatkan tentang pesan nasionalism yang utuh dan tinggi kualitas pemikirannya, walaupun ada yang menyebut Pancasila sebagai sebuah ketidakjelasan. Namun mau tidak-mau pancasila hadir sebagai jawaban pemersatu bangsa lintas suku bangsa, yang belum terlihat apakah manajemen pengelolaan perekonomian bangsa sudah sesuai jalur amanah konstitusi? Pertanyaan ini yang perlu kita urai, sebenarnya landasan filosofis dan implementasi pembangunan ekonomi bagaimana yang dikehendaki oleh konstitusi.

Menurut saya ada beberapa langkah yang pertama adalah memastikan kejelasan kedaulatan rakyat sebagai bentuk tanggungjawab pengelolaan negara. Untuk memastikan kualitas dan kesejahteraan rakyat haruslah berbasis keakurasian data, by name by addressdalam setiap berserikat dan berkumpul rakyat di Indonesia.

Langkah ini adalah langkah nyata yang selama ini belum mewujud dalam kebijakan Indonesia secara menyeluruh. Silahkan bisa lihat kualitas data di Badan Pusat Statistik[2]. Dengan demikian pengakuan hidup kedaulatan adalah kepastian kehadiran negara bagi individu.

Kedua, konsekuensi dari data tersebut adalah kebijakan penganggaran dan kebijakan pembangunan dapat dipastikan sampai hingga individu rakyat. Hal ini akan berakibat pada mekanisme kebijakan fiscal/anggaran dan kebijakan moneter. Dengan demikian asumsi makro yang selama ini menjadi patokan pembuatan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) akan berganti dengan APBN yang benar-benar bukan hanya asumsi tetapi riil pendapatan belanja negara (tiap-tiap warga negara).

Ketiga, kebijakan moneter akan menutut adanya penyediaan alat edar sesuai kebutuhan dari APBN yang sudah berbasis pendapatan dan belanja individu tersebut. Penyediaan alat edar hanya untuk memperlancar pertukaran atau barter produktivitas.

Dengan demikian penyediaan alat edar tidak lagi seperti sekarang yang hanya melihat permintaan dan penawaran uang dipasar keuangan, tetapi kebutuhan riil yang ada dimasyarakat, sehingga dari kalangan bawah hingga presiden tidak akan menemui atau menjumpai kata-kata, kita tidak punya uang, kita tidak punya anggaran.

Dengan setidaknya tiga langkah impelemtatif dari segi pengelolaan keuangan negara akan berdampak pada proses pembangunan ekonomi. Memastikan kesejahteraan dan kualitas hidup harus tiap-tiap individu warga negara, inilah yang diamanahkan dalam Undang-undang Dasar 1945.

Ketika langkah tersebut dapat ditunaikan insya alloh kita mampu menyongsong era baru yaitu pembebasan dari belenggu penjajahan dan hegemoni perekonomian dunia oleh bangsa-bangsa yang dikategorikan maju. Selain itu dampak sistemik dari langkah-langkah tersebut adalah menuju perdaban yang berkeadilan dan bebas dari penjajahan materialism dan kroninya.

Karena pibadi melihat selama satu dollar tidak sama dengan satu rupiah, satu ringgit, satu yen, satu peso, satu real, satu bath maka dengan lantang saya pastikan di dunia ini masih ada PENJAJAHAN. Dan kita hadir untuk membuka cakrawala tentang penjajahan yang super halus melalui perekonomian. Ekonomi Indonesia Untuk Dunia. Jaya-Jaya Wijayanti, Rahayu.
  1. Begawan Ekonomi Nusantara
  2. BPS sebagai lembaga pusat data Indonesia. Untuk membuktikan pernyataan saya diatas adalah dengan melihat kualitas data, metodologi yang dipakai dalam pengumpulan data. Data merupakan hal penting untuk keopastian dalam pembangunan ekonomi dan pembangunan bangsa, apabila data yang tersaji hanya sekedarnya tentu menjadi permasalahan yang akan hadir dikemudian hari.

27 Jul 2017

Dimana aku harus mencari uang


oh uang,
yang kucari siang dan malam,
hingga serasa menggantikan Tuhan di hati dan pikiran,
kau bisa beranak dan diperanakkan tapi kenapa kau bisa dijadikan tuhan,

oh uang,
kenapa kau ada di bank,
kau menjadi hutang lalu kau tagih dengan hitungan komputer tanpa mempedulikan rasa kemanusiaan,
kenapa kau menjadi ukuran kekayaan dan kemiskinan,
kau berbunga tapi tak harum dan rupawan
kau bisa dijadikan dagangan dan menjadi harapan menimbun keuntungan,

aku hanya butuh makan,
kalau kata anak jaman sekarang yang kubutuhkan adalah sandang pangan dan casan (charger),
tapi kenapa tanpamu aku tak bisa sarapan, dan mengenyam pendidikan.

Dimana aku harus mencari uang?
Kalau kata Bang Iwan dalam lirik lagunya: penguasa penguasa berilah hambamu uang,
ah siapa pula penguasa, presiden saja tak punya kuasa mencetak uang,
lagi-lagi bank yang kuasa mencetak uang,
tapi bank mencetak untuk angka-angka dan atas nama undang-undang, bukan untuk manusia yang kelaparan,

oh pasti yang dimaksud penguasa adalah Tuhan,
jadi aku cari saja manusia yang menghamba pada Tuhan agar bisa mencetak uang

25 Jul 2017

Mem - PNS - kan Petani Padi


Catatankita.com - Beras adalah salah satu komoditi yang amat penting di Republik ini. Dari daftar sembilan bahan pokok, beras menduduki peringkat pertama. Berdasarkan Survey Sosial Ekonomi Nasional 2013, kelompok padi-padian (terutama beras) bertengger paling atas pada persentase pengeluaran rerata/kapita/bulan sebesar 7,46%. Sementara bagi penduduk miskin, persentase pengeluaran untuk mengakses beras lebih tinggi lagi, yaitu sebesar 30%.

Akan tetapi, posisi strategis beras yang mengisi perut setiap warga, minimal tiga kali sehari, tidak linear dengan nasib atau kesejahteraan profesi petani padi selaku produsen gabah sebelum digiling menjadi beras. Survey Struktur Ongkos Usaha Tani Tanaman Pangan (SOUT) tahun 2012 oleh BPS menyatakan bahwa rumah tangga usaha tani (padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar) di Indonesia menganggap bahwa prospek usaha mereka 56,60% sama saja, 7,12% lebih buruk dan hanya 36,26% yang mempersepsikan akan lebih baik. Angka tersebut menunjukkan bahwa profesi petani dianggap sudah tidak menguntungkan untuk digeluti. Di level pendidikan tinggi, kuota fakultas pertanian banyak tidak terisi atau tidak terpenuhi, bahkan di kampus-kampus ternama. Ini mengindikasikan bahwa generasi muda juga menganggap profesi petani tidak menarik.

Secara ekonomis, usaha budidaya padi jauh dari kata menguntungkan. Dengan nilai aset tanah senilai 350 juta sampai 1,5 milyar, pendapatan petani hanya bergerak di kisaran 1-3 juta/bulan. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika banyak petani yang lebih memilih untuk menjual lahan dan beralih ke usaha lain yang lebih menguntungkan. Misalnya, di Ubud, Bali, nilai lahan sawah mencapai 15 juta/meter persegi. Alhasil, petani memilih menjual lahan dan beralih ke bisnis cottage dengan pendapatan bersih 25-50 juta per bulan.

Rentang 1992-2002, laju konversi lahan/tahun mencapai 110.000 ha. Periode 2002-2006 melonjak menjadi 145.000 ha/tahun. Lebih ironis, di Jawa, rentang 2007-2010 laju konversi rerata 200.000 ha/tahun (Kompas, 24/5/2011). Pada 2007, lahan (sawah beririgasi teknis, non teknis dan lahan kering) di Jawa masih 4,1 juta hektar, kini, 2013, tersisa 3,5 juta hektar. Tanpa usaha moratorium konversi lahan, terutama di pulau Jawa, ketahanan pangan bakal menghadapi ancaman serius. Sawah-sawah subur di pulau Jawa menyumbang 56-60 persen produksi nasional. Dengan support irigasi teknis, produktivitas sawah di Jawa rerata 5,187 ton/ha, sementara di luar Jawa hanya 3,94 ton/ha. Sementara, pencetakan sawah baru oleh pemerintah hanya 37.000-45.000 ha/tahun.

Senyatanya, pemerintah tidak tinggal diam. UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dikeluarkan untuk mengerem laju konversi lahan. Akan tetapi, usaha ini tidak berhasil. Buktinya, konversi lahan tidak terbendung, terutama di Jawa. Oleh karena itu, dibutuhkan kebijakan yang lebih kuat. Menurut penulis, salah satu alternatif kebijakan adalah mem-PNS-kan petani padi. Petani padi kudu disubsidi habis-habisan. Laiknya logika PNS, selama petani menanam dengan target panen realistis yang telah diverifikasi, petani harus digaji fix/ bulan. Tentu saja dengan nominal yang layak bagi kemanusiaan, yaitu pada kisaran 2,5 juta per bulan dengan bonus renumerasi jika hasil panen melampaui target. Jika hasil dibawah target, pendapatan petani tidak boleh dikorbankan. Selain itu, seluruh biaya produksi dan subsidi gagal panen ditanggung oleh negara (pemerintah). Petani jangan lagi dipusingkan dengan penjualan. Bulog dapat difungsikan kembali oleh negara sebagai jembatan antara supplier utama (petani) dengan supplier pendukung (tengkulak atau pengusaha) agar harga tidak fluktuatif sebelum di lempar ke demander (konsumen).

Tawaran alternatif kebijakan di atas cukup beralasan. Pertama, jumlah penduduk Indonesia terus meningkat. Menurut data data resmi sensus penduduk 2010 yang dikeluarkan oleh BPS, penduduk Indonesia sebesar 237.641.326 jiwa. Berangkat dari angka ini, jika kita menggunakan data pertumbuhan penduduk indonesia yang dikeluarkan oleh Bank Dunia, yakni 1.49% per tahun, maka jumlah penduduk indonesia tahun 2014 ini akan menjadi 252.124.458 jiwa. Dengan angka nasional kebutuhan beras/kapita/tahun mencapai 127 kg, total kebutuhan beras nasional sebanyak 32,02 juta ton/tahun.

Kedua, luas panen padi nasional sebesar 13,83 juta ha dengan rerata produktivitas 5,15 ton (BPS, 2013). Dengan demikian, produksi padi nasional mencapai 71,27 juta ton GKP. Dengan memperhatikan persentase kehilangan panen 20,42%; kehilangan pada saat panen (9,5%), perontokan (4,8%), pengeringan (2,1%), penggilingan (2,2%), penyimpanan (1,6%), dan pengangkutan (0,2%), produksi gabah nasional tersisa 57,01 juta ton GKG atau setara 31,35 juta ton beras (asumsi koefisien giling 0,55).

Dengan demikian, defisit stok beras nasional sebesar 0,73 juta ton, plus cadangan nasional minimal 2 juta ton beras. Data ini selaras dengan klaim Departemen Pertanian RI bahwa persentase impor beras 25% dari total produksi nasional. Ditambah dengan angka konversi lahan yang terus menggelinding di kisaran 100.000 ha/tahun, bangsa ini menghadapi ancaman kerawanan pangan dan kepunahan petani padi. Dengan rentan usia petani padi antara 48-60 tahun dan ke-emoh-an anak muda untuk menyeriusi profesi ini, kurang lebih sepuluh tahun ke depan, indonesia berpotensi kehilangan satu profesi. Oleh karena itu, alternatif kebijakan yang ditawarkan catatankita.com patut untuk dipertimbangkan. Setidaknya efektif akan dua hal:
  • mencegah konversi lahan padi
  • dan menarik minat pemuda untuk menjadi petani. Pada akhirnya, ancaman kerawanan pangan bisa diatasi

21 Jul 2017

Asimetri Informasi dalam PERCINTAAN


Catatankita.com - J O M B L O : Tapi tahukah kamu asal usul kata jomblo itu sendiri? Bila didefinisikan berdasarkan pengertian anak muda zaman sekarang, maka jomblo adalah bahasa percakapan yang digunakan untuk menyebut orang yang tidak memiliki pasangan atau kekasih. Tapi tahukah kamu asal usul kata jomblo itu sendiri? Bila didefinisikan berdasarkan pengertian anak muda zaman sekarang, maka jomblo adalah bahasa percakapan yang digunakan untuk menyebut orang yang tidak memiliki pasangan atau kekasih. Tapi tahukah kamu kata jomblo tidak ditemukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia, karena ternyata kata jomblo berasal dari kata jomlo. Apa sih jomlo itu? Ternyata kata tersebut berasal dari bahasa Sunda yang sudah dibakukan ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dan memiliki arti negatif dari gadis tua. Kata ini digunakan untuk menyebut perempuan yang sudah tua namun belum menikah atau memiliki pasangan.

Dan kenapa kamu dan kamu sering JOMBLO alias kagak laku-laku seperti lagunya waliband, yuk nyanyi dulu...



Apa salahku apa salah ibuku
Hidupku di rundung pilu
Tak ada yang mau
Dan menginginkan aku
Tuk jadi pengobat pilu
Tuk jadi penawar rindu
Tuk jadi kekasih hatiku
Timur ke barat selatan ke utara
Tak juga aku berjumpa
Dari musim duren hingga musim rambutan
Tak kunjung aku dapatkan
Tak jua aku temukan
Oh Tuhan inikah cobaan
Ibu-ibu bapak-bapak
Siapa yang punya anak
Bilang aku aku yang tengah malu
Sama teman-temankuKarna cuma diriku yang tak laku-laku
Pengumuman-pengumuman
Siapa yang mau bantu
Tolong aku kasihani aku
Tolong carikan diriku kekasih hatiku
Siapa yang mau

langsung saja, mungkin ini penyebabnya kamu masih jomblo dan kamu masih sendiri dan khususnya lagi yang lagi baca catatankita.com yang cantik dan ganteng :

  • Mempunyai standar dan ekspektasi yang tinggi terhadap seseorang adalah hal yang baik
Akan tetapi kamu akan merasakan sendiri dampak buruk jika kamu nmenggunakan standar yang terlalu tinggi dalam waktu yang panjang. Sadari bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tidak ada individu yang sempurna di dunia ini. Oleh karena itu, luangkan waktu untuk merenungkan apakah selama ini kamu jomblo karena menggunakan standar yang terlalu tinggi atau tidak realistis untuk menilai seseorang.
  • Terlalu asik dengan dunia kamu sendiri 
Penyebab jomblo terlalu lama yang berikutnya masih berkaitan dengan kepribadian kamu sendiri, yaitu kamu mungkin terlalu asik dengan dunia kamu sendiri atau terobsesi dengan sesuatu yang menjadikan kamu jauh dengan orang lain. Dalam kondisi seperti ini akan sangat sulit buat orang lain untuk melakukan PDKT ke kamu, karena fokus yang ada di dalam pikiran hanyalah diri sendiri.
Cara mengatasinya adalah dengan belajar untuk menjadi terbuka dan lakukan hal-hal yang menyenangkan dengan orang-orang di sekitar kamu. Selalu ingat bahwa ada banyak hal menyenangkan yang bisa kamu lakukan dengan orang lain.

  • Kamu ingin selalu dekat dengan si dia
Sering putus nyambung dalam membina relationship? Mungkin ini jawaban buat kamu!
Setiap orang kadang-kadang membutuhkan quality time untuk di nikmati sendiri atau dengan orang lain misalnya dengan sahabat, saudara, keluarga dan sebagainya. Quality time ini tidak seharusnya di monopoli oleh pasangannya sendiri.
Oleh sebab itu jika kamu merasakan relationship yang putus nyambung sebaiknya kamu melakukan koreksi terhadap diri sendiri. Apakah kamu merasa ingin selalu dekat dengan si dia sampai-sampai si dia merasa kurang nyaman? Jika iya, maka sudah saatnya kamu belajar untuk memberikan orang lain quality time untuk mereka nikmati.

  • Kamu nggak tertarik menjalin relationship
Ada lagi penyebab jomblo terlalu lama dan akut, yaitu ketidaksiapan untuk menjalin relationship. Kamu mungkin sadar bahwa kamu terlalu lama menjomblo karena kamu tidak tertarik untuk seriusan dengan orang lain. Kamu lebih menikmati kesendirian dan status jomblo karena kamu tidak mau berurusan dengan relationship yang lebih intensif dan melibatkan emosi.
Bagi kamu, kebebasan adalah hal yang paling utama untuk di miliki dan di nikmati.

  • Males untuk berkomitmen lebih jauh
Jika kamu sudah berlarut-larut dalam menikmati kebebasan dan kesendirian, maka secara otomatis kamu akan semakin males untuk berkomitmen dengan orang lain.
Kamu mungkin memiliki persepsi bahwa komitmen akan menjadikan kamu seseorang yang sulit untuk mandiri atau komitmen akan menjadi pengekang segala kebebasan yang kamu miliki.

  • Belum sepenuhnya move on
Susah melupakan mantan? salah satu penyebab jomblo terlalu lama yang sering di dapati!
Kamu belum bisa move on secara serius. Setiap melihat mantan, bawaannya pengen mewek padahal si mantan udah punya gebetan baru. Orang lain akan sungkan untuk mendekati kamu karena pikiran kamu masih belum bisa clear terhadap mantan kamu yang udah lewat.

  • Putus asa
Tidak ada jomblo yang paling ngenes, selain jomblo yang putus asa dan kehilangan semangat.
Saat kamu putus asa, maka kamu akan kehilangan energi positif yang bisa membantu kamu untuk lebih bersemangat dalam mengejar kebahagiaan.
Usir perasaan putus asa seperti ini dengan cara memperbanyak berinteraksi dengan orang-orang yang berpikiran positif. You are deserve to be happy!

  • Kamu mungkin kebanyakan mengurusi orang lain
Semua orang tidak akan suka dekat dengan seseorang yang kerjaannya hanya mengurusi masalah orang lain.

Kalau diatas masih kurang ampuh, lanjut ke bawah :
  • Jujur
Jika anda merasa telah bertemu dengan seorang cewek idaman, tunjukkan bahwa anda adalah pria jujur, sopan, sekaligus charming ... Jika ia ingin sharing, curhat atau sekedar ngobrol, tunjukkan juga kalau anda sangat antusias untuk mendengarkan ceritanya. Setelah itu anda akan merasakan indahnya dikelilingi para cewek.
  • Jangan Banyak Menilai
No Body Perfect. Hal inilah yang kerap dilupakan para cowok (termasuk cewek juga). Usahakan untuk tidak membandingkan seorang cewek dengan cewek lain, bisa-bisa dia malah sebal.
  • Jangan Mengikat
Anda tidak boleh mengikatnya. Beri dia ruang gerak, maksudnya jangan keseringan 'berkeliaran' di sekitar dia. Biarkan si dia menebak dimana anda berada, sedang ngapain dan sama siapa. Asal tahu saja, ketidakhadiran anda itu, justru bisa menumbuhkan rasa penasaran dan kerinduan dalam dirinya.
  • Willing
Saat dia bercerita, tunjukkan kesan bahwa anda tertarik dan antusias mendengarkannya. Tunjukkan pula bahwa anda bersedia mendengarkan keluhan dan curahan hatinya. Entah cerita biasa-biasa saja atau masalah keluarga, pekerjaan, hobi, sampai mimpi-mimpinya. Jangan lupa untuk menanggapi cerita-ceritanya dengan pendapat yang brilian, tanpa terkesan menggurui.
  • Humor
Survei membuktikan 9 dari 10 wanita menyukai cowok yang punya selera humor tinggi. Jadi leontarkan humor2 yg cerdas tapi jangan terlalu keseringan.
  • Tampil menarik 
Tidak perlu penampilan berlebihan, anda cukup memastikan bahwa anda tampil bersih, harum, nafas segar, dan nggak berantakan. Cewek pasti banyak yang melirik.
  • Jangan Terlalu Nafsu 
Saat lagi PDKT, cobalah tahan hasrat dalam diri dan tahan air liur anda. Nelpon? Boleh aja kok, tapi jangan terlalu terlalu sering. SMS or kirim email? Boleh .. tapi jangan ngegombal melulu. Batasi kontak anda dengannya, seperlunya saja. Namun usahakan agar isi pembicaraan cukup bermakna dan membuat dia terpesona.
  • Jual Mahal 
Meskipun yakin si cewek udah jatuh hati pada anda atau bahkan udah ngebet banget, coba pura-pura nggak butuh atau bisa juga berlagak cuek kalau anda sedang di dekatnya. Dijamin dia bakalan penasaran abis.
  • Buat Dia Penasaran 
Bukan rahasia lagi kalo yang namanya cewek itu demen banget dengan segala sesuatu yang bersifat misterius. Maka dari itu di kesempatan pertama, anda tidak usah langsung membuka diri. Beri sedikit informasi tentang siapa sebenarnya anda. Biarkan rasa ingin tahunya tentang diri anda terus tumbuh dan berkembang. Dengan begitu, dia pun akan selalu berharap untuk bisa mengenal anda lebih jauh lagi.
  • Jangan Sok Akrab
Banyak cewek lebih memilih menjadi sahabat ketimbang menjadi kekasih. Alasannya adalah, bila dia merasa hubungan dengan anda sudah kelewat dekat, perasaannya bisa berubah utk lebih enak untuk menjadikan anda teman saja.

Pesan Catatankita.com :
Agar tidak terjadinya asimetri informasi dalam hubungan antar adam dan hawa atau disebut juga JOMBLO adalah kesadaran untuk kembali pada dirinya masing-masing, pemahaman yang utuh serta keterbukaan dan kejujuran agar hubungan tersebut tak bertepuk sebelah tangan. Inilah yang kemudian terucap dari pangeran tian feng atau disebut CUT PAT KAY 
“Sejak dulu beginilah cinta, penderitaannya tiada akhir”, karma terberat adalah karma cinta sepantasnya adalah derita cinta pasti berakhir hingga tidak ada karma demi karma cinta bisa diakhiri. Selamat memulai karma cinta dan mengakhirinya!

19 Jul 2017

Kota Wisata Batu Destinasi yang Terus Berbenah


Catatankita.com - Kota Batu yang selama ini menyatakan diri sebagai kota wisata, cukup berbenah dalam berbagai sektor baik tempat ataupun pelayanannya. Tempat wisata yang dikelola pihak swasta, terlihat banyak pengunjungnya. Tiket masuk yang area wisata tersebut boleh dibilang tidak murah, tetap saja banyak peminatnya. Harga tiket yang tidak murah itu ternyata sebanding dengan fasilitas yang diberikannya. Pengunjung cukup puas apa yang disajikan pengelola itu. Tempatnya begitu nyaman, modern, bersih, serta banyak menampilkan ruang untuk ber-narsisria.

Cukup banyak destinasi wisata di Batu yang dikelola dengan baik, sebagai kota kecil –Batu- urusan kemodernannya tidak kalah dengan kota besar lainnya. Sebagai contoh wahana di Jatim Park 1 tidak kalah dengan Dufan yang ada di Ancol Jakarta. Kesan yang sama juga ditemukan di tempat yang lain (masih di Batu) seperti Jatim Park 2 (Museum Satwa dan Batu Secret Zoo), Museum Angkot serta yang lainya.

Di lain sisi ada wisata yang mengandalkan keindahan alam ternyata tidak banyak peminat, padahal tiket yang ditarik cukup terjangkau (bekisar 10 ribu sampai 30 ribu). Jika harus menyatakan alasan, maka jawaban sederhananya adalah karena pengelolaannya kurang baik kalau tidak mau disebut asal-asalan. Kita dapat merasakan sendiri fasilitas yang diberikan kurang memberikan rasa nyaman: toilet yang kurang terawat, jalan banyak rusak, sampah berserakan, banyaknya pedagang yang tidak tertata, serta kondisi yang kurang mengenakkan lainnya. Cukup bisa ditebak yang kurang dalam pelayanan itu –biasanya- dikelola oleh unsur pemerintah.

Jika pariwisata ingin dijadikan industri, maka dalam pengelolaannya sah-sah saja jika ingin meraup untung. Toh hal itu juga dilepas melalui mekanisme pasar. Masyarakat (bawa: wisatawan) tentu akan memilih fasilitas yang baik terutama dalam kenyamanan. Bukankah tujuan berwisata pada dasarnya untuk menghilangkan penat serta bersenang-senang, urusan biaya –kadang- menjadi urusan belakangan.

"Di Kota Batu, 80 persen penduduk adalah petani. Dalam waktu 14 tahun, sejak wali kota pertama mencanangkan Kota Batu sebagai kota wisata religi dan wali kota ketiga menetapkan Batu Kota Wisata, pola pikir pertanian itu berubah dan kini sebagai pelaku usaha jasa wisata dan pemilik obyek wisata.

Dari sektor andalan pariwisata tersebut, Pemkot Batu pada 2015 mampu mengisi kas daerah melalui APBD sebesar Rp 725 miliar dan Rp 580 miliar di antaranya berasal dari pajak industri pariwisata. Pada APBD 2016, Pemkot Batu memasang target pendapatan Rp 1 triliun yang 75 - 80% berasal dari sektor pariwisata. Pariwisata yang menjadi andalan Kota Batu dapat menyerap banyak tenaga kerja, terutama yang masuk ke destinasi baru. Dari usaha jasa pariwisata sendiri, seperti destinasi Jatim Park, dapat memberikan beasiswa bagi anak-anak keluarga tidak mampu dan destinasi petik buah apel diarahkan untuk mengembangkan pertanian berbasis organik.

Sebagai kota wisata, Kota Batu telah menjadi ikon bagi Jawa Timur dan Indonesia, selayaknya wisata tak hanya yang “itu-itu saja”. wisata tak hanya sekedar hiburan saja tapi juga meliputi kehidupan didalamnya. Wisata juga ada di pasar,tempat-tempat ibadah,sarana olahraga,terminal dan sarana-sarana lainnya yang bisa dijadikan “obyek wisata”. begitupula dengan kegiatan didalamnya, hingga setiap sendi kehidupan menjadi satu keunikan yang menyedot perhatian wisatawan. Ditambah dengan suasana pegunungan dan hawa yang sejuk menjadikan Kota Wisata Batu sebagai salah satu destinasi yang terus berbenah dan dapat mengemasnya dengan baik, bagaimana dengan kota lainnya? tentu semua bisa karena setiap jengkal wilayah tanah air adalah destinasi dunia.

13 Jul 2017

BANGUN PANCASILA


Catatankita.com - Huruf, mengombinasi mewujud kata lalu berderet rapi mengarti kalimat. Huruf, kata dan kalimat adalah manifesto imaji dan kehendak manusia. Kemudian, kehendak-lah yang menekan tombol perintah pada jasad, mengkonversi huruf, kata dan kalimat menjadi perbuatan. Dalam “bahasa” Newton, transformasi imaji-kehendak menjadi perbuatan adalah bentuk perjalanan atau perubahan energi. Dalam terma arsitektur, kata-huruf-kalimat adalah desain bangunan dan perbuatan adalah bentuk fisik bangunan.

Bagian “antara” imaji-kehendak, huruf-kata-kalimat dan perbutan disebut proses. Aliran energi selama proses imaji-kehendak menjadi huruf-kata-kalimat dan huruf-kata-kalimat mewujud perbuatan tidak akan pernah sempurna. Analog dengan persamaan gas “ideal” (PV = nRT) dalam ilmu kimia yang tidak benar-benar ideal atau perubahan energi listrik menjadi energi cahaya pada lampu, yang sebagian energi listriknya ter”buang” menjadi energi panas. Begitu sunnatullah, -format baku-, kehidupan. Usaha kita sebagai manusia hanya mengupayakan agar (sedapat mungkin) imaji-kehendak, huruf-kata-kalimat dan perbuatan berimpit sempurna. Itulah sebabnya ada adigium yang berbunyi “tidak ada manusia yang sempurna, nobody perfect.

Pancasila adalah salah satu bentuk dari rangkaian imaji, huruf-kata-kalimat dan perbuatan. Kata Pancasila tidak bisa lepaskan dari penemunya, Bung Karno, Bapak Revolusi Indonesia. Meskipun kata Pancasila bukan manivesto imaji-kehendak Bung Karno semata, kalimat dalam 5 sila Pancasila “berhasil” menampung dan merepsentasikan imaji-kehendak 80 juta manusia saat itu hingga melahirkan nation-state berasma Indonesia. Lebih lanjut, sila-sila dalam Pancasila secara konsisten tergambar via tingkah pola beliau hingga wafat. Pada diri Bung Karno, bagian “antara” atau proses sangat kecil, tidak banyak energi yang terbuang atau meminjam istilah Buya HAMKA, “sempurnanya iman perjuangan adalah samanya maksud, lisan dan perbuatan”.

Akan tetapi, “iman” Pancasila terlanjur meninggalkan residu atau karma. Oleh Soekarno, Pancasila telah menjadi “bangunan” bagi 80 juta manusia cut off 1 Juni 1945 atau 260 juta manusia cut off 1 Juni 2017. Sebenarnya, rancangan atau desain “bangunan” Pancasila telah dimulai oleh Bung Hatta, konco-matenya Bung Karno. Para intelektual di jamannya menggelari Bung Karno sebagai “langit”nya Pancasila dan Bung Hatta sebagai “bumi”nya Pancasila. Itu pula alasan keduanya disebut dwitunggal. Namun, takdir berkata lain. Hingga akhir hayatnya, Bung Hatta belum berhasil menyelesaikan rancangan/ desain utuh Pancasila.

Saat Soeharto naik tahta dan menanggung imaji-kehendak Pancasila 100 juta manusia Indonesia, huruf-kata-kalimat atau “desain” dan perbuatan atau “bangunan” Pancasila belum mampu menampung atau mewadahi imaji-kehendak setiap manusia yang berhimpun di bawah panji Indonesia. Situasi ini terus bertahan meskipun berganti wajah, otoriter-demokratis-liberal hingga kini. Oleh sebab itu, tak perlu sedih dan panik jika generasi gadget merasa asing dan skeptis terhadap “rancangan” dan “bangunan” Pancasila. Tidak ada yang salah dengan Pancasila. Pancasila masih tetap sebagai imaji-kehendak 260 juta manusia Indonesia. kita hanya frustasi menanti kapan kalimat Pancasila menjadi buku atau “desain” lengkap ditambah bukti fisik bahwa fondasi “bangunan” Pancasila benar-benar mulai dibangun mengelilingi Sabang-Merauke dan Rote-Mianggas.

Saya percaya (dalam sekup makhluk), energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Ruh Bung Karno, Bung Hatta dan para founding fathers telah kembali kepada Tuhan dan jasad pinjaman telah dikembalikan ke alam. Namun, energi imaji-kehendak mereka akan terus mencari jasad hingga imaji-kehendak, kata dan perbuatan Pancasila 260 juta manusia Indonesia mewujud. Mungkinkah? Jelas mungkin. Karena sejatinya, ketidakmungkinan adalah kemungkinan yang belum dilampaui oleh manusia. Selama kita masih memelihara imaji-kehendak (harapan) Pancasila, pasti ada jalan (saluran) energi Pancasila. Saya percaya, di salah satu sudut negeri ini, pasti ada manusia yang akan menerima amanah ini. Dan suatu saat nanti tinggal menunggu waktu! NKRI menjadi Mercusuar Dunia.

12 Jul 2017

BUKAN BANGSA TEMPE


Catatankita.com - Meski jadi negara pengkonsumsi kedelai terbesar di dunia, namun ironinya kebutuhan kedelai Indonesia bergantung dari impor. Setiap tahun, rata-rata angka impor kedelai di atas 2 juta ton, sebagian besar berasal dari Amerika Serikat (AS). Direktur Perlindungan Tanaman Kementerian Pertanian (Kementan), Dwi Iswari, mengatakan untuk tahun 2016 ini sebanyak 68% kebutuhan kedelai ini dipasok dari impor. Padahal, kedelai adalah bahan baku untuk produk panganan asli Indonesia yakni tempe.

"Kedelai untuk impor saja sekarang masih 68% dari total kebutuhan. Kebutuhan kita setiap tahun 2,7 juta ton, sementara jumlah produksi baru 885.000 ton, impornya 1,8 juta ton," ujar Dwi di seminar Tantangan dan Peluang Agribisnis 2017 di Hotel Santika, Jakarta, Kamis (15/12/2016). Lantaran kecilnya produksi kedelai dalam negeri serta keterbatasan anggaran, Kementan sendiri saat ini baru fokus pada 2 tanaman pangan pokok lainnya yakni beras dan jagung. "Jadi kita harus hilangkan kata le (kedelai) dulu dalam program swasembada pajale (padi jagung kedelai), karena yang kedelai ini masih lama swasembadanya. Karena impornya saja masih 68%, sementara paja (padi kedelai) dulu," jelas Dwi.

"Kami menggoyangkan langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita." Demikian pidato Presiden Soekarno yang menegaskan bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang lembek seperti tempe. Pada masa revolusi kata 'tempe' memang kerap diidentikan dengan hal-hal negatif seperti cengeng, mudah menyerah atau lembek. Maka sindiran seperti 'mental tempe', 'pasukan tempe' atau 'pemuda kelas tempe' dipakai untuk meledek mereka yang dianggap lemah.

Tempe juga diidentikan dengan makanan murah dan merakyat. Tempe merupakan makanan asli Indonesia yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16. Walau murah dan dipandang sebelah mata, adalah tempe yang menyelamatkan jutaan rakyat Indonesia dari penyakit kurang gizi dan busung lapar tahun 1945-hingga akhir 1960an. Kalau tidak ada tempe, saat ekonomi Indonesia benar-benar terpuruk, entah berapa juta anak yang terlahir kurang gizi. Sebelumnya, tempe juga menyelamatkan tahanan perang dunia II yang ditawan Jepang. Cukup besar jasa makanan yang terbuat dari fermentasi kedelai ini. Selayaknya tempe yang berbahan baku kedelai bisa menjadi ikon bagi Indonesia, yang terpenting kedelainya tidak impor dan murni hasil bumi nusantara sendiri. Inilah hal membanggakan dari negeri kita agar kelak “bangsa tempe” mampu berdikari dan berdaulat atas pangan. SALAM TEMPE !

SIMALAKAMA TIMNAS



Catatankita.com - Tujuan utamanya barangkali menjaga mutu kompetisi sebagaimana disampaikan dalam surat keputusan PT LIB yang dirilis kepada wartawan, tapi tak semua pihak berpikiran serupa. Madura United dan Borneo FC bahkan memandang penangguhan regulasi U-23 rawan ditunggangi kepentingan lain. Mereka curiga ada pihak-pihak yang mengambil kesempatan dalam kesempitan saat kompetisi mulai memasuki periode krusial.

Sekadar mengingatkan, Liga 1 menjadwalkan pekan ke-12 sampai 17 selama Juli sehingga setiap tim kemungkinan melakoni lima atau enam pertandingan. Tanpa penangguhan regulasi U-23, klub yang banyak menyetor pemain ke timnas U-22 tentu bakal keteteran karena mesti menurunkan pemain U-23 "kelas dua". Ambil contoh Bali United. Klub berjuluk Serdadu Tridatu ini mesti melepas empat pemain, yakni Mohammad Dicky, Miftahul Hamdi, Ricky Fajrin, dan Yabes Roni Malaifani, sehingga berdampak cukup besar terhadap tim. Kecuali Dicky, tiga pemain lain biasa mengisi starting line-up Bali United. Penangguhan regulasi U-23 mendatangkan keuntungan besar karena pelatih Widodo Cahyono Putro sementara dapat memasang pemain senior untuk menggantikan trio pemain timnas U-22 tersebut.

“Kekuatan kami sedikit pincang dengan dipanggilnya keempat pemain kami ke timnas, tapi secara keseluruhan penangguhan regulasi U-23 memang sangat menguntungkan semua tim Liga 1,” ujar Widodo. Adapun timnas U-22 hanya "menggembosi" 13 klub. Terdapat lima kontestan Liga 1 yang sama sekali tak berkurang kekuatannya: Madura United, Pusamania Borneo FC, Sriwijaya FC, Semen Padang, dan Perseru Serui. Tentu tidak hanya klub penyetor banyak pemain buat timnas yang diuntungkan dengan penangguhan regulasi ini. Beberapa tim lain, terutama yang memang menumpuk sejumlah pemain senior, boleh jadi turut merasa bersyukur.

Tentunya perubahan regulasi ditengah berjalannya kompetisi ini menjadi “simalakama” bagi timnas sendiri. Disatu sisi ada tugas negara untuk mengangkat nama timnas namun disatu sisi ada tuntutan untuk membawa klub berprestasi dalam liga. Kedua hal inilah yang harus dipertemukan agar tujuan bersepakbola tercapai dan tak ada pertentangan antara keduanya. Kebutuhan klub dan timnas harus selaras hingga semua menemui muara yang sama, bukankah liga yang baik akan menghasilkan timnas yang kuat ? hendaknya tahun depan hal-hal seperti ini tak ada lagi, seluruh penikmat bola tanah air ingin menonton liga yang berkualitas dan timnas yang berprestasi. Sepantasnya agenda timnas khususnya persiapan piala AFF 2018 tak terganggu oleh gelaran liga begitu pula sebaliknya.

11 Jul 2017

Nenek Moyangku Seorang Pelaut?


Catatankita.com - Sebagai sebuah state, eksistensi Indonesia belum ada seabad. Namun, jika kita tarik garis sejarah lebih lampau, Nusantara, dimana Indonesia adalah satu diantara himpunan bagiannya, telah berumur ribuan tahun dengan model pemerintahan monarki federasi. Adakah yang tahu berapa jumlah suku bangsa di Indonesia? Hasil sensus penduduk yang dilakukan oleh BPS tahun 2010 mencatat bahwa Indonesia terdiri dari 1.128 suku bangsa. Bandingkan dengan China yang hanya punya 56 suku bangsa dan India dengan 6 suku bangsa. Padahal, luas dan jumlah penduduk kedua negara tersebut lebih besar dan lebih luas dari Indonesia. Besar kemungkinan, daratan Indonesia yang berbentuk gugusan pulau-pulau (archipelago) ikut menyumbang musabab melimpahnya suku bangsa di Indonesia.

Lantas, apa hubungannya dengan statement nenek moyangku seorang pelaut? Sulit menyangkal bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut. Setidaknya ada tiga definisi pelaut yang telah dipraktekan di Nusantara, jauh sebelum Indonesia. Apa saja?

Pertama, potensi laut menyimpan sumberdaya yang dapat dimanfaatkan, salah satunya sebagai sumber pangan. Dari sini, lahir profesi nelayan, fisherman. Spesialis profesi ini diampu oleh “suku air” yang dikenal dengan suku Bajau (Bajo). Suku Bajau hidup di sebagian besar garis pantai Indonesia. Kuat dugaan penulis, mereka yang mengajarkan kepada suku lain di Indonesia untuk melaut, khususnya menangkap ikan.

Kedua, setiap pulau di Indonesia menghasilkan potensi sumberdaya alam (SDA) yang berbeda-beda. Untuk menjamin rantai supply-demand keunggulan kompetitif SDA tiap pulau, aktivitas perdagangan yang melintasi laut mutlak diperlukan. Bersamaan dengan aktivitas perdagangan, juga terjadi mobilitas horizontal manusia. Untuk konsekuensi dua hal ini, tercipta pelaut model kedua, trader. Spesialis profesi ini dipegang oleh suku Bugis di Sulawesi Selatan. Kecanggihan teknologi kapal suku Bugis (phinisi) sudah tidak terbantahkan. Dermaga Pantai Gading dan Kanada adalah saksi kehebatan phinisi.

Ketiga, sebagai negara model monarki federasi, “perjalanan dinas” petugas negara adalah operasional prosedur standar untuk memastikan kehadiran negara setiap bangsa (kerajaan) di Nusantara. Untuk itu, lahirlah pelaut model ketiga, administrator (pelaut eksekutif) dan defender (pelaut pertahanan keamanan). Pelaut model ini memerlukan kapal yang dilengkapi dengan armada laut yang tangguh. Spesialis profesi ini adalah milik bangsa di Kerajaan Sriwijaya, semenanjung selatan Sumatera. Gadjah Mada, Patih Majapahit, adalah contoh pelaut yang melakukan tugas kenegaraan (administrator) dan pengawal beliau adalah model pelaut yang melakukan tugas pertahanan (defender).

Jadi, apakah nenek moyang kita seorang pelaut? Seratus satu persen, iya. Dengan demikian, Indonesia adalah negara maritim dan seperti lagunya :



nenek moyangku orang pelaut
gemar mengarung luas samudra
menerjang ombak tiada takut
menempuh badai sudah biasa

angin bertiup layar terkembang
ombak berdebur di tepi pantai
pemuda b'rani bangkit sekarang
ke laut kita beramai-ramai

7 Jul 2017

KULTUR SEPAK BOLA PAPUA


Catatankita.com - Pelatih kawakan Rahmad Darmawan berpendapat, prestasi sebuah kesebelasan bisa ditunjang dengan kultur sepak bola di daerah asal. Semakin erat hubungan si kulit bundar dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, maka peluang lahirnya sebuah tim yang tangguh akan kian besar. Melihat kondisi di Indonesia, pelatih yang kini menukangi Arema Cronous itu menunjuk dua klub dengan kultur sepak bola paling mendukung. Keduanya adalah Persipura Jayapura dan Persib Bandung. Menurut Rahmad, Papua dan Jawa Barat memiliki tradisi sepak bola yang sangat kental, bahkan hingga ada di setiap sendi kehidupan masyarakatnya.

“Secara kultur, yang seharusnya paling maju di Indonesia, ya Papua dan Bandung. Iklim sepak bolanya kental dan luas. Arema memang kuat, tapi hanya di Malang saja. Beda dengan Persipura yang menjadi milik hampir semua masyarakat Papua. Juga Persib yang tidak hanya milik orang Bandung, orang Jawa Barat pasti ke Persib,” ucap pelatih yang akrab disapa RD ini di kediamannya, Kota Malang, beberapa waktu lalu. Namun, dia melihat perbedaan mencolok antara Persib dan Persipura. Tim Mutiara Hitam, menurut RD lebih konsisten dalam pembinaan skuad kebanggaannya. Hal itu terlihat dari kebijakan mereka yang tidak banyak merombak komposisi pemain maupun tim pelatih.

“Persipura sudah empat tahun tidak ganti pelatih, sejak dipegang Jecksen F Tiago. Itu sangat menunjang pembentukan gaya bermain Persipura. Membentuk ideologi permainan sebuah tim itu tidak mudah, butuh waktu lama. Sedangkan Persib, saya tidak mengerti bagaimana caranya mereka menghidupi tim. Finansial mereka kok tidak pernah ada masalah ya,” tutur pelatih yang juga perwira TNI ini sedikit tertawa. Para pemain Persipura sudah menganggap dia seperti "ondoafi". Sosok Jacksen Ferreira Tiago sudah tidak asing lagi di mata dunia sepak bola Tanah Air. Ia pernah membawa beberapa tim memuncaki tangga juara di Liga Indonesia dan menjadikannya sebagai ikon yang layak mendapatkan gelar pelatih terbaik. "Saya masih harus belajar lagi untuk mencapai tujuan saya. Saya masih merasa bukan pelatih terbaik," kata Jacksen, Kamis lalu.

Sebagai pelatih, Jacksen tidak keberatan dikritik oleh pemainnya bila ada yang salah. "Namun itu tak pernah terjadi di Persipura Jayapura. Mereka selalu menghargai saya dan saya juga demikian," ucapnya. Sudah sekitar empat tahun Jacksen bersama tim Mutiara Hitam. Ia sangat betah dengan suasana Papua dan kenyamanan warganya. Memanfaatkan masa istirahat, tak jarang pelatih Persitara Jakarta Utara pada 2008/2009 itu pergi dan melihat keindahan Tablanusu, sebuah daerah indah di bagian barat Kota Jayapura. "Saya sangat betah di sini. Saya sebenarnya ingin lama di Papua, saya seperti sudah menjadi bagian dari Papua."

Semua fakta diatas sebagai penguat bahwa kultur sepakbola papua mirip dengan kultur sepakbola brazil, bermula dari kebiasaan dan “ruh kehidupan” masyarakatnya. Begitupula dengan pembinaan dan gaya bermain ala samba yang selalu dipertontonkan oleh tim-tim asal papua, akankah ciri ini selalu lekat sepanjang zaman dimana sepakbola terbentuk oleh kondisi alamnya. Menilik hal itu selayaknya sarana dan prasarana di papua juga dibangun untuk menunjang kemapanan mereka dalam dunia olah sikulit bundar. Saatnya sepakbola menjadi sebuah “amalan” dalam kehidupan!

6 Jul 2017

Kapan Seseorang Dianggap Layak Untuk Mengakhiri Masa Lajang

Catatankita.com - Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi menurut tradisi suku bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial. Penggunaan adat atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan aturan atau hukum agama tertentu pula.

Pengesahan secara hukum suatu pernikahan biasanya terjadi pada saat dokumen tertulis yang mencatatkan pernikahan ditanda-tangani. Upacara pernikahan sendiri biasanya merupakan acara yang dilangsungkan untuk melakukan upacara berdasarkan adat-istiadat yang berlaku, dan kesempatan untuk merayakannya bersama teman dan keluarga. Wanita dan pria yang sedang melangsungkan pernikahan dinamakan pengantin, dan setelah upacaranya selesai kemudian mereka dinamakan suami dan istridalam ikatan perkawinan.

“Pernikahan”, berasal dari kata nikah yang menurut bahasa artinya mengumpulkan, saling memasukkan, dan digunakan untuk arti bersetubuh (wathi).
Dalam Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Namun, kira-kira pada usia berapa ya, seseorang dianggap layak untuk mengakhiri masa lajang?


Jadi kamu para kaum adam dan hawa khususnya para jomblo atau jomblowati kalau menikah dalam rentang usia 25-28 tahun termasuk ke dalam usia menikah "ideal". Kalau kamu menikah dalam rentang usia 29-31 tahun, itu termasuk kategori "cukup".  Pada usia 32-34, artinya masuk dalam kategori "waspada" anda harus segera cari pasangan karena ditahap selanjutnya, yang menikah pada usia 35 bahkan setelahnya, harus "siaga".

5 Jul 2017

SAND SOCCER (Sepak Bola Pasir) dan Sepak Bola Gunung



Catatankita.com - Sebanyak 14 negara memastikan ikut Piala Asia Sepak Bola Pantai 2017 di Malaysia. Kejuaraan ini akan berlangsung pada 4-11 Maret 2017 di Kuala Terengganu. Menariknya Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau tersebar dari Sabang sampai Merauke, tidak ambil bagian dalam kejuaraan Asia ini. Ketinggalan dari Afghanistan, misalnya, Negara yang barangkali kurang memiliki pantai dan pulau. Dalam hal ini peran PSSI di sepak bola pantai patut dipertanyakan. Piala Asia Sepak Bola Pantai 2017 ini akan menjadi ajang kualifikasi Piala Dunia Sepak Bola Pantai 2017 yang berlangsung di Bahama, 27 April-7 Mei 2017. FIFA memberi jatah Asia atau AFC sebanyak tiga negara untuk putaran final Piala Dunia Sepak Bola Pantai 2017.

Sebenarnaya sepakbola pantai di Indonesia bisa menjadi olahraga yang banyak digemari karena banyak pantai yang tersebar di seluruh penjuru tanah air. Pertunjukan liga bisa dikemas dengan promosi wisata sekaligus paket destinasi. Inilah tugas dari federasi untuk membuat sepak bola pantai lebih menjamur di kawasan yang memiliki pantai. Bisa jadi ada persija yag berkandang di pantai ancol, persebaya yang berkanfang di pantai kenjeran, arema yang berkandang di pantai ngliyep ato kondang merak atau PSM yang berkandang di pantai losari.

Selain itu kami juga memiliki gagasan atau ide cemerlang (menurut catatankita.com) yaitu liga sepakbola gunung.


Karena Indonesia memiliki gunung berapi aktif terbanyak didunia yang tentunya menyediakan pasir di sekitarnya sebagai abu vulkanik. Pertunjukan sepakbola bisa dikemas bersama promosi wisata sekaligus paket destinasi, sekali lagi bayangan ada tim persib yang berkandang di gunung tangkubanprahu, PS Wonosobo yang berkandang di gunung dieng, persis solo yang berkandang di Gunung lawu atau arema yang berkandang di gunung bromo dan persik Kediri yang bermarkas di gunung kelud. Selebihnya ekonomi kreatif berupa pertunjukan sepakbola pantai dan gunung juga menjadi hiburan tersendiri bagi penduduk sekitar dan meningkatkan perekonomian warga setempat. Lantas bagaimana dengan persiwa yang berkandang di gunung jayawijaya ? tentunya akan ada sepakbola salju dikemudian , semoga menjadi pilihan alternative selain sepakbola rumput dan futsal yang telah berkembang di tengah-tengah masyarakat. Saatnya sepakbola berevolusi menyesuaikan perubahan zaman, sepokbola bukan hanya olahraga semata namun telah menjadi hiburan bahkan wisata karena diselenggarakan di “alam terbuka”. Siapa mau memulainya ?

4 Jul 2017

TIMNAS BUKAN MIE INSTANT


Catatankita.com - Anda tak salah baca. Pelatih Timnas Indonesia U-16 sendiri yang menginginkan timnya dibubarkan setelah menuntaskan target yang diembankan oleh PSSI. "Tidak mungkin tim ini dijadikan satu lagi. Kita harus belajar dari pengalaman timnas-timnas sebelumnya yang terus digabung," kata Fakhri "Sebut saja PSSI Garuda I dan II, Pratama, Bina Utama, Primavera, Baretti sampai yang terakhir Sociedad Anonima Deportiva (SAD). Kami bisa lihat hasilnya seperti apa," tambahnya.Fakhri menginginkan anak asuhnya disebar ke level klub untuk mendapatkan pembinaan di kompetisi. Pembubaran itu ingin dia lakukan usai Garuda Asia menjalankan tugasnya di dua kompetisi penting dalam waktu dekat.Pertama, Piala AFF U-16 di Chonburi, Thailand, 9-22 Juli 2017. Indonesia tergabung di Grup A bersama Thailand, Australia, Laos, Myanmar dan Singapura.Kedua, Kualifikasi Piala Asia U-16 2018 di Thailand, 16-24 September 2017.

Garuda Asia masuk Grup G bersama Laos, Timor Leste, Kepulauan Mariana Utara, dan tuan rumah Thailand.Jika mampu menjadi juara grup atau runner-up, Rendy Juliansyah dkk lolos ke Piala Asia U-16 2018 dan berpeluang lolos ke Piala Dunia U-17 2019.Fakhri menginginkan pemainnya mendapat tempat di klub kompetititf, khususnya di Liga 1. Dan berharap semua tim mulai berpikir untuk memiliki tim U-16. "Selain kompetisi U-19, bisa dibentuk juga buat kelompok umur U-16. Timnas kan seperti itu juga, ada U-16, ada U-19," tutur Fakhri."Ada 18 klub di Liga 1, anak-anak bisa disebar dan dibuatkan kompetisi sendiri. Itu bagus untuk masa depan sepak bola Indonesia," ucap pelatih berumur 51 tahun ini.Ide Fakhri masuk akal dan sangat ideal. Jika setiap klub punya 20-25 pemain U-16, minimal ada stok 360 anak-anak U-16 yang rutin mengasah diri dalam ajang kompetisi resmi."Itulah mengapa saya tidak setuju tim ini kembali digabung. Tidak ada unsur kompetisi dan terkesan ekslusif," tegasnya.

Bicara gelaran Piala AFF U16 yang digelar sejak 2002 dimana Indonesia dan Malaysia menjadi tuan rumah bersama,catatan prestasi tertinggi Timnas adalah dengan lolos kebabak final di Piala AFF U16 edisi 2013 di Myanmar.Sayang langkah Bagas Adi dkk harus terhenti ditangan Malaysia lewat drama adu tendangan pinalti usai kedua tim bermain imbang 1-1 diwaktu normal.Selain itu, Timnas U16 juga lolos kebabak semifinal sebanyak empat kali diedisi 2002, 2007, 2010 dan 2013. Artinya Timnas usia muda Indonesia memiliki 'track record' yang lumayan apik walau sempat tidak megirimkan wakil karena sanksi FIFA, termasuk dilevel senior dimana Timnas Indonesia sukses lolos kebabak final sebanyak lima kali walaupun belum mampu menorehkan gelar juara.Prestasi sensasional justru ditorehkan Timnas Indonesia U19 asuhan Indra Sjafrie yang mampu meraih juara Piala AFF U19 2013 di Sidoarjo usai menaklukkan Vietnam lewat drama adu pinalti.

Tentunya akan kembali menjadi catatan sejarah nan luar biasa jika Timnas Indonesia U16 mampu menorehkan prestasi sebagaimana yang dicatat Evan Dimas dkk dilevel U19.Sebuah sejarah baru dilevel U16 yang sekaligus melengkapi kesuksesan Timnas U19 sebelumnya dan peluang untuk mewujudkannya pun terbuka.Walau bermain dikandang macan seperti edisi 2013,Fakhri Husaini dan staff pelatih tentu sudah mempersiapkan segala hal untuk mewujudkan mimpi juara 'Garuda Asia',julukan Timnas U16. Intinya tak ada yang instan dalam proses pembinaan hingga mereka lulus dari kelompok umur (U23) untuk menjadi pemain professional di masa depan, talenta-talenta inilah yang harus dirawat dan di jaga agar selalu tampil konsisten hingga bisa kita petik/panen hasilnya kelak, BRAVO GARUDA!